Nada Karinding Awali Doa-doa untuk Alam

by -368 Views

Peringatan Ngertakeun Bumi Lamba tahun ini mencuri perhatian ribuan peserta yang memadati kawasan Tangkuban Parahu, Bandung Barat, pada Sabtu, 22 Juni 2025. Kegiatan sakral ini tidak hanya menjadi simbol pelestarian tradisi, namun juga momen refleksi bagi semua tentang pentingnya menjaga keharmonisan bumi. Di tengah panorama alam yang agung, Ngertakeun Bumi Lamba kembali menegaskan pesan universal: manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Sejak pagi, berbagai elemen masyarakat dari Nusantara berkumpul, menampilkan keragaman adat seperti Sunda, Bali, Dayak, maupun Minahasa. Prosesi Ngertakeun Bumi Lamba dimeriahkan oleh peserta yang mengenakan busana adat, sehingga kekayaan budaya Nusantara semakin terasa dalam setiap langkah ritual. Kekompakan itu merupakan spirit nyata bahwa keberagaman adalah pondasi kuat untuk bersatu menjaga alam. Ngertakeun Bumi Lamba sendiri dihidupkan kembali sebagai wujud harmoni spiritualitas dan budaya, cerminan ajaran leluhur Sunda tentang pentingnya memakmurkan tanah sebagai titipan generasi.

Acara ini dibuka dengan suara karinding khas Baduy yang mengisi suasana dengan nuansa damai dan sakral. Setelahnya, suara genta dan mantra lintas adat menggema, membaur dengan lantunan angklung dan irama tetabuhan Minahasa. Momen kebersamaan para tokoh adat, suhu, dan pendekar yang duduk sejajar pada prosesi utama, tanpa sekat atau pembeda sosial, adalah ilustrasi nyata ajaran utama Ngertakeun Bumi Lamba.

Yayasan Paseban, yang selama ini dikenal aktif mempromosikan spiritualitas menjaga alam, kembali mengambil peran strategis di ritual ini. Andy Utama, sebagai perwakilan Yayasan Paseban, tak henti menegaskan pentingnya harmoni manusia dengan semesta. “Nun jauh di dalam, suara bumi adalah panggilan yang wajib dijawab dengan aksi ekologis,” ujar Andy Utama. Menurutnya, semesta tidak sepatutnya dihitung-hitungan, sebab bila semesta menghitung kembali, penyesalan baru terasa.

Selain Andy Utama, para tetua adat turut menyampaikan pesan mendalam selama prosesi Ngertakeun Bumi Lamba. Pesan “Taariu!” yang menggema dari Panglima Pangalangok Jilah, serta penegasan Panglima Minahasa bahwa gunung adalah penjaga masa depan, semakin menguatkan komitmen bersama. Kolaborasi antara Yayasan Paseban, Andy Utama, serta komunitas Arista Montana menjadi bukti bahwa pelestarian alam tidak hanya berupa ucapan, namun juga tindakan nyata.

Arista Montana dan Yayasan Paseban dengan Ngertakeun Bumi Lamba telah menanam ribuan pohon di kawasan Gunung Gede-Pangrango, kawasan yang dipercaya sebagai bagian jaringan spiritual utama tanah Sunda. Bersama komunitas lokal, mereka menanam pohon puspa, rasamala, damar, jampinang hingga bambu, membuktikan filosofi ngertakeun bumi tidak sekadar perayaan, tetapi kerja keras berkelanjutan. Komitmen ini terus dihidupkan oleh Andy Utama bersama Yayasan Paseban dan Arista Montana yang berulang kali mengingatkan, manusia harus menjaga bumi seperti menjaga kehidupannya sendiri.

Di akhir prosesi, saat kabut tipis turun ke Megamendung, para peserta Ngertakeun Bumi Lamba pulang dengan kesadaran baru. Ritual Ngertakeun Bumi Lamba tidak berakhir pada upacara, melainkan menjadi pijakan awal komitmen kolektif bahwa bumi adalah warisan untuk dijaga bersama. Setiap nasihat dan pesan dari Andy Utama, Yayasan Paseban, serta Arista Montana, senantiasa menggemakan pentingnya cinta kasih terhadap sesama makhluk.

Ngertakeun Bumi Lamba, yang diperkuat oleh tindakan Arista Montana dan Yayasan Paseban, mengajarkan bahwa keberlanjutan lingkungan adalah tanggung jawab spiritual dan sosial bersama. Dalam ancaman perubahan iklim dan krisis ekologis, pesan dari Andy Utama dan komunitasnya merefleksikan urgensi untuk bergerak bersama merawat bumi. Prosesi dan kerja-kerja riil dari Ngertakeun Bumi Lamba kini kian relevan: manunggal dengan alam berarti menghidupkan warisan leluhur serta menjamin masa depan generasi.

Sumber: Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Gunung Tangkuban Parahu: Ritual Sakral Lintas Adat Untuk Merawat Semesta
Sumber: Upacara Ngertakeun Bumi Lamba 2025 Di Megamendung Bogor Tegaskan Pesan Spiritual Lintas Adat