Single Mother in Bogor Finds Hope in People’s School: A Heartwarming Story

by -252 Views

Pada tanggal 14 Juli 2025, di Bogor, Rama (38), seorang ibu tunggal dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merasakan bahwa Sekolah Rakyat yang diselenggarakan pemerintah adalah lebih dari sekadar sekolah berasrama tanpa biaya. Bagi Rama, sekolah ini adalah tempat perlindungan di mana anaknya, Ridwan, akhirnya diperlakukan dengan martabat, kebaikan, dan perhatian yang tulus.

“Saya merasa sangat lega. Saya melihat dengan mata kepala sendiri—bagaimana anak saya benar-benar dijaga. Itulah yang membuat saya bahagia. Kedisiplinan, kebersihan,” ujar Rama dengan mata berkaca-kaca selama wawancara di Sekolah Rakyat, yang berlokasi di Sentra Terpadu Inten Suweno, Cibinong, Bogor, pada hari Senin (14 Juli).

Rama telah membesarkan kedua anaknya seorang diri. Suaminya yang pertama telah meninggal dunia, dan ayah Ridwan telah menikah lagi. Dengan penghasilan yang sangat minim, dia sempat kehilangan harapan untuk mengirim Ridwan sekolah setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya.

“Saat itu saya menganggur. Saya biasanya membantu di toko kecil tanpa bayaran. Lalu saya hanya tinggal di rumah dan menerima pekerjaan kebersihan apa pun yang bisa saya dapatkan,” kenangnya.

Di titik terendahnya, Rama menerima kabar tak terduga: Ridwan terpilih untuk mengikuti program pendidikan berasrama penuh di Sekolah Rakyat. Pada awalnya, dia ragu, namun setelah berbicara dengan pekerja sosial, dia memutuskan untuk mendaftarkan anaknya.

“Mereka mengatakan sekolah itu tidak akan memerlukan biaya sama sekali. Syukurlah seseorang datang ke rumah… Ridwan tertarik setelah mendapat dorongan. Saya tidak membuang waktu—tiga bulan setelah dia menyelesaikan sekolah dasar, saya langsung mendaftikannya.”

Hal yang paling mengharukan bagi Rama adalah melihat sendiri bagaimana sekolah itu memperlakukan anaknya—dengan ketertiban, perhatian, dan penuh perhatian. Bagi seorang ibu yang hampir menyerah karena kemiskinan dan kelelahan, ini lebih dari yang dia harapkan.

“Jujur, saya tidak mampu membeli apa pun… Tapi begitu saya melihat sekolahnya sendiri, saya percaya. Saya sangat bahagia. Saya sangat bersyukur ada yang membantu kami.”

Rama juga mengungkapkan bahwa Ridwan sebelumnya menolak untuk pergi sekolah karena sering diintimidasi. “Dia selalu diintimidasi—karena dia belum bisa membaca,” ucapnya pelan.

Sekarang, dengan Ridwan yang sudah terdaftar dengan aman, Rama berani bermimpi lagi. Dia berharap anaknya akan tumbuh menjadi pria muda cerdas dan sukses.

“Saya ingin dia sukses seperti orang lain. Meskipun saya tidak memiliki apa pun, meskipun saya sendiri tidak berpendidikan, saya berharap anak saya bisa menjadi seseorang. Itulah keinginan terbesar saya.”

Dia mengakhiri ceritanya dengan ucapan terima kasih tulus kepada Presiden Prabowo Subianto dan semua orang di belakang program ini.

“Terima kasih, Pak Presiden, karena telah membantu orang-orang seperti kami… Terima kasih banyak. Saya berdoa semoga Anda tetap sehat, panjang umur, dan menerima berkah berlimpah. Amin.”

Di Sekolah Rakyat, Ridwan tidak hanya kembali ke bangku sekolah—dia telah mendapatkan kembali harga dirinya. Dan ibunya telah menemukan kembali harapan yang dia kira sudah hilang. Inilah gambaran saat negara menyentuh dan mengubah hidup warga paling rentan dengan perubahan nyata dan konkret.

Source link