Seorang pelajar SMA berinisial S menjadi korban eksibisionis oleh seorang pria di jembatan penyebrangan orang (JPO) Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (21/9) sore. Kejadian tersebut terjadi ketika S baru saja pulang ekstrakurikuler dari sekolahnya di Pondok Kopi, Duren Sawit. S mengungkapkan bahwa dia telah melihat pria tersebut ketika turun dari Jaklingko di bawah JPO, di mana pria tersebut menunjukkan alat kelaminnya. Pelajar tersebut merasa terganggu dengan tindakan tersebut, sehingga dia mengambil video kejadian tersebut. Meskipun pelaku kemudian mengenakan celananya kembali setelah mengetahui bahwa dia diambil video, S tetap berani mengutarakan keberatannya kepada pria tersebut.
Di sisi lain, petugas bus Transjakarta yang berada di tempat kejadian tidak memberikan bantuan atau respons yang sesuai ketika S meminta pertolongan. Hal ini membuat S merasa kecewa dan menganggap bahwa petugas tersebut seharusnya memberikan dukungan ketika ada situasi yang memerlukan penanganan. Ayah dari S, Abdul Rasyid, juga turut angkat bicara terkait kejadian tersebut, dimana anaknya merasa trauma akibat peristiwa yang terjadi. Abdul mengekspresikan rasa kekecewaannya terhadap petugas yang kurang bertindak dengan serius, serta mencemaskan kondisi psikologis anaknya yang menolak untuk berangkat ke sekolah karena masih mengalami trauma. Kejadian ini membuktikan bahwa respons dan dukungan yang cepat dan tepat sangat penting dalam situasi yang melibatkan tindakan pelecehan seksual.





