Film “Pelangi di Mars” menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah deretan film komedi, horor, dan drama percintaan di pasaran. Dibuat oleh Mahakarya Pictures dan disutradarai oleh Upie Guava, film ini membawa nuansa sci-fi dengan cerita petualangan Pelangi, seorang anak yang lahir di Mars, dan teman-teman robotnya dalam perjalanan untuk mengejar mimpinya. Dengan setiap langkahnya, Pelangi mengajak penonton, terutama anak-anak, untuk menjelajahi imajinasi dan mimpinya.
Para penonton yang menyukai film-film sci-fi ala Hollywood seperti Star Wars atau Avatar akan menemukan “Pelangi di Mars” sebagai tontonan yang patut diperhitungkan. Film ini melibatkan ratusan talenta terbaik dari seluruh Indonesia, mulai dari animator hingga VFX artist, dalam upaya membawa perfilman Indonesia ke tingkat dunia. Dengan penggunaan teknologi Extended Reality (XR) yang masih baru dalam industri film global, “Pelangi di Mars” menjadi film pertama asal Indonesia yang mengadaptasi teknologi ini secara masif.
Diperankan oleh Messi Gusti, Lutesha, Myesha Lin, Rio Dewanto, dan Livy Renata, serta diisi suara oleh Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Bimo Kusumo, Vanya Rivani, hingga Dimitri Arditya, film ini berhasil meraih perhatian penonton seperti Kirana di Kota Kediri. Menurut Kirana, film ini tidak hanya menarik, tetapi juga membanggakan bahwa sineas Indonesia mampu menciptakan karya sebagus “Pelangi di Mars”. Peluncuran film ini pada 18 Maret 2026 menjadi momen penting dalam sejarah perfilman tanah air, menandai langkah maju dalam industri film Indonesia.
