Film The King’s Warden mencatat rekor sebagai film terlaris sepanjang masa di Korea Selatan dengan jumlah penonton mencapai 16 juta dalam waktu singkat. Kisah Raja Danjong yang diangkat dalam film ini memperoleh perhatian karena berdasarkan kisah nyata Raja keenam dari Dinasti Joseon. Setelah dijatuhkan dari takhtanya oleh kudeta Gyeyu, Raja Danjong diasingkan ke Cheongnyeongpo, sebuah daerah terpencil di Yeongwol, Provinsi Gangwon. Tempat ini kini menjadi tujuan wisata bersejarah yang didatangi oleh banyak orang untuk melihat napak tilas kehidupan Raja Danjong selama masa pembuangannya.
Cheongnyeonpo menyuguhkan pemandangan yang indah dengan berbagai peninggalan sejarah, seperti patung Raja Danjong dan Ratu Jungsung yang tengah bergandengan tangan. Di hutan pinus Geimgang, terdapat pohon pinus gwanneum yang disebut saksi kehidupan Raja Danjong selama pembuangan. Rumah peristirahatan Raja Danjong dan para pelayannya juga masih berdiri kokoh hingga saat ini. Nosandae, tempat sang raja melamun, dan Manghyangtap, menara batu yang dibuat untuk mengenang istrinya, juga dapat ditemui di lokasi tersebut.
Meski pernah direndam bajir besar dan Raja Danjong diungsikan ke Gwanpungheon, kisah pilu kehidupan dan nasib Raja Danjong akhirnya terangkat ketika tahun 1457 ia dihukum mati. Makamnya ditemukan dan diperbaiki pada tahun 1541, sementara anugerah anumerta datang pada tahun 1681 saat ia diangkat kembali menjadi Raja Danjong. Melalui film The King’s Warden, penonton dapat menyaksikan potret tragis kehidupan Raja Danjong, yang masih diputar di bioskop Indonesia.





