Wusi Tungkau Nansarunai: Menjemput Jiwa yang Tak Pernah Runtuh

by -44 Views

Pementasan Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai”: Menghidupkan Kembali Memoar Bangsa Dayak Ma’anyan

Di bawah cahaya redup lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah pada Jumat (1/5/2026) malam, sebuah kisah epik kolektif dari bangsa Dayak Ma’anyan dipersembahkan melalui pementasan sendratari yang memukau.

Bukan sekadar pertunjukan tari biasa, sendratari berjudul “Wusi Tungkau Nansarunai” ini hadir sebagai cerminan mendalam tentang kehancuran, hawa nafsu, dan keberanian untuk bangkit dari puing-puing sejarah yang kelam.

Kisah Kerajaan Nansarunai: Dari Kejayaan Hingga Kehancuran

Sendratari ini mengisahkan kejayaan Kerajaan Nansarunai, sebuah kerajaan purba suku Dayak Ma’anyan yang telah berdiri kokoh sejak zaman prasejarah. Di bawah kepemimpinan Amah Jarang, kerajaan ini hidup dalam harmoni dan merayakan kesuburan tanah melalui ritual-ritual suci.

Namun, kedamaian itu terguncang oleh munculnya ancaman dari “Nansarunai Usak Jawa”, yang melambangkan serangan dari luar yang menghancurkan kehidupan yang tenteram tersebut.

Filosofi Dibalik Pementasan

Melalui pementasan sendratari ini, produser Alfirdaus menyampaikan pesan filosofis kuat tentang pengendalian diri. Ia menyoroti bahwa hawa nafsu yang tak terkendali menjadi pemicu utama kehancuran Nansarunai.

Dengan ratusan penonton yang memadati tribun UPT Taman Budaya, momen dramatis dari eksodus massal Suku Dayak Ma’anyan ke pedalaman hutan Barito digambarkan dengan sangat menyentuh.

Mewarisi Identitas dan Sejarah

Bagi masyarakat Dayak Ma’anyan, Nansarunai bukan hanya sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan bagian dari identitas dan warisan yang harus dijaga dengan baik dari generasi ke generasi. Pementasan ini menjadi pengingat bahwa menjaga akar budaya adalah kunci keberlangsungan sebuah bangsa, terlepas dari zaman yang terus berubah.

Harapan besar terletak pada generasi muda untuk menjaga dan memahami sejarah dengan tanggung jawab. Kesadaran akan warisan budaya dan bahaya dari hawa nafsu yang merajalela diharapkan dapat membangun benteng yang kokoh bagi kelangsungan Suku Dayak Ma’anyan ke depan.

Malam itu, panggung UPT Taman Budaya menjadi saksi bahwa meskipun luka masa lalu tidak dapat dihapus, namun kekuatan untuk bangkit dan membangun kembali semangat baru tetap ada.

Source link