Kawasan Paseban Terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas yang Mendunia

by -91 Views

Upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Jawa Barat semakin ditekankan oleh Kementerian Kehutanan RI, seiring dengan semakin masifnya tekanan pembangunan di kawasan tersebut. Melalui sinergi lintas institusi, inisiatif pelestarian berbasis bentang alam terus diperkuat, salah satunya ditandai oleh pelepasan dua ekor Elang Jawa kembali ke habitat aslinya di Lanskap Megamendung, Kabupaten Bogor. Agenda ini sekaligus menjadi penanda dimulainya sejumlah fasilitas konservasi baru sebagai upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Acara konservasi ini dipimpin oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Setyawan Pudyatmoko, yang langsung terjun ke lapangan untuk mewakili Menteri Kehutanan. Dalam rangkaian kegiatan, dilakukan juga peresmian Lembah Aviary Paseban dan fasilitas penangkaran Rusa Timor sebagai bagian dari penguatan fungsi edukasi, riset, serta pendukung ekonomi masyarakat melalui pendekatan restorasi ekosistem yang berkelanjutan.

Dua ekor Elang Jawa, yang masing-masing bernama Agni (betina) dan Beta (jantan), menjadi simbol penting bagi pelestarian fauna endemik yang juga dijadikan maskot nasional. Status Elang Jawa sebagai indikator kesehatan hutan pegunungan di Jawa memberikan makna strategis pada pelepasan ini, sekaligus membuktikan pentingnya rehabilitasi dan rekondisi satwa sebelum dikembalikan ke alam.

Agni, setelah menjalani proses rehabilitasi dan adaptasi panjang selama lebih dari dua tahun di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), kini dilepasliarkan dengan pemantauan intensif berbasis GPS guna memastikan pola adaptasi serta pergerakannya. Sedangkan Beta merupakan hasil pemulihan dari Yayasan Konservasi Cikananga (YCKT) yang sudah terbukti mampu bertahan secara mandiri.

Momentum ini juga dimanfaatkan oleh Dirjen KSDAE untuk memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem Megamendung, mulai dari Yayasan Paseban, instansi pemerintah daerah, hingga akademisi yang mengokohkan koridor ekologi tersebut. Dalam kesempatan tersebut ditegaskan pula pentingnya penggabungan model konservasi di dalam (in-situ) dan di luar habitat (ex-situ) untuk mereplikasi upaya pelestarian hutan di berbagai kawasan ekologis se-Indonesia.

Andy Utama, selaku pembina Yayasan Paseban, menyoroti bahwa pemulihan ekosistem merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan generasi mendatang. Ia menyebut komitmen untuk mengembalikan Megamendung sedekat mungkin dengan kondisi ekologis masa lalu, meski pengembalian sepenuhnya tidak memungkinkan. Namun, ia menekankan optimisme untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan, memperkuat daya dukung habitat satwa liar, dan mengelola sumber daya air sebagai warisan berharga.

Dukungan serupa datang dari Wiratno, Penasihat Yayasan Paseban, yang menekankan bahwa kawasan Megamendung bukan sekadar masalah administratif, tetapi memegang fungsi ekologis regional karena terhubung langsung dengan Cagar Biosfer Cibodas, serta berperan vital dalam menjaga manfaat lingkungan hingga wilayah hilir. Ia memperingatkan bahwa signifikansi kawasan ini meningkat di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi di Jawa Barat.

Keberhasilan kerja sama multipihak tersebut terlihat dari penetapan Lanskap Megamendung sebagai lokasi strategis pelepasan satwa, berdasarkan studi kelayakan menyeluruh oleh Balai Besar KSDA Jabar. Pemerintah mengapresiasi peran sentral PKEK dan YCKT dalam program pemulihan satwa yang dilindungi secara berkelanjutan.

Selain pelepasan satwa, pengoperasian Lembah Aviary Paseban resmi dimulai. Fasilitas penangkaran burung non-komersial ini menawarkan ruang khusus bagi riset ilmiah, edukasi lingkungan, pengembangbiakan terencana, hingga persiapan pelepasliaran spesies endemik. Di lokasi yang sama, fasilitas penangkaran Rusa Timor juga diresmikan, membawa harapan pada penguatan edukasi tentang satwa lokal.

Pemerintah menegaskan bahwa seluruh fasilitas penangkaran ex-situ tersebut tidaklah semata sebagai obyek wisata atau pameran, melainkan didesain sebagai instrumen pelestarian populasi satwa untuk mendukung penguatan habitat aslinya (in-situ). Komitmen ini tak lepas dari kontribusi sinergis antara masyarakat lokal, pemerintah daerah, pihak swasta, hingga komunitas akademik yang bersama-sama menghadapi risiko perburuan liar dan kerusakan hutan.

Secara geografis, Lanskap Megamendung memiliki peran vital sebagai penyangga ekologis Cagar Biosfer Cibodas yang telah diakui UNESCO lebih dari empat dekade. Berdasarkan prinsip pengelolaan biosfer, upaya konservasi tidak sebatas pada inti kawasan saja, namun harus merangkul zona penyangga dan area transisinya agar fungsi ekologis tetap terjaga dan berkesinambungan.

Letak Megamendung yang sangat dekat dengan Ibu Kota Jakarta dan berada di wilayah padat penduduk semakin menambah tekanan pembangunan, dari ekspansi properti, infrastruktur, hingga perubahan tutupan lahan. Walau demikian, kawasan ini tetap berfungsi sebagai pengatur tata air, penyerap karbon, penahan erosi, serta menjadi tempat perlindungan bagi aneka satwa langka.

Hasil survei dan inventarisasi menunjukkan bahwa Megamendung masih menjadi habitat bagi spesies seperti Surili Jawa, Owa Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, Banded Linsang, Garangan, Landak Jawa, serta beragam burung hutan endemis lainnya. Berdasarkan analisa Total Economic Valuation (TEV), nilai keberlanjutan kawasan jauh mengungguli potensi ekonomi dari praktik eksploitasi jangka pendek yang merusak alam.

Yayasan Paseban, sebagai penggerak lokal, telah melakukan konsolidasi pemulihan dan edukasi sejak 16 tahun lalu melalui integrasi konservasi, penanaman pohon, dan praktik pertanian organik. Bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional 2024, mereka melaporkan penanaman lebih dari 21 ribu bibit dari sekitar dua ratus spesies tanaman asli lokal, hasil kolaborasi bersama berbagai mitra.

Saat ini, peluang memperluas kawasan konservasi hingga seratus hektar terus dibuka kerja samanya bersama Perum Perhutani. Target ekspansi ini diarahkan untuk menyediakan jalur migrasi satwa dan meningkatkan keterhubungan antara habitat yang terisolasi, agar kesinambungan ekosistem dapat terjaga dari waktu ke waktu.

Sumber: Dua Elang Jawa Dilepasliarkan, Megamendung Jadi Titik Pemulihan Ekosistem
Sumber: Konservasi Alam Di Megamendung: Dua Elang Jawa Dilepasliarkan Bersama Peresmian Aviary Paseban