JAKARTA – Film-film Indonesia kembali meraih prestasi internasional dengan masuk dalam Busan International Film Festival/ BIFF 2026. Dalam festival ini, empat film Indonesia berhasil masuk, dan yang menariknya, tiga di antaranya dibintangi oleh Christine Hakim.
Menampilkan Talenta Lokal di Kancah Internasional
Tiga film yang dibintangi oleh Christine Hakim dan satu film lainnya yang berhasil masuk ke BIFF 2026 adalah Ibuku (My Mother), Laut Bercerita, Empat Musim Pertiwi, dan aLPa.
Tentang Ibuku
Film Ibuku yang disutradarai oleh Eddie Cahyono, merupakan hasil kolaborasi antara Indonesia dan Jepang. Film ini mengisahkan perjuangan seorang ibu (diperankan oleh Christine Hakim) untuk bertemu dengan putrinya yang dihukum mati di Arab Saudi atas tuduhan pembunuhan. Namun, sang putri menolak untuk bertemu dengan ibunya karena luka masa lalu. Ibuku mengangkat konflik ibu dan anak, serta isu perempuan, hak asasi manusia, dan pekerja migran.
Tentang Laut Bercerita
Laut Bercerita, yang diadaptasi dari novel karya Leila S Chudori dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, menggambarkan situasi demokrasi di Indonesia di masa Orde Baru. Film ini berkisah tentang aksi demonstrasi yang menghilangkan sejumlah mahasiswa termasuk seorang aktivis bernama Laut. Dalam film ini, Christine Hakim memerankan karakter Ibu Wibisana. Laut Bercerita akan ditayangkan perdana di BIFF 2026.
Tentang Empat Musim Pertiwi
Empat Musim Pertiwi, sebuah film feminis yang juga dibintangi oleh Christine Hakim, menceritakan tentang seorang perempuan bernama Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara karena membunuh pria yang mencoba memperkosanya. Namun, kepulangannya tidak dihargai oleh warga setempat. Film ini disutradarai oleh Kamila Andini dan akan masuk dalam program A Window on Asian Cinema di BIFF 2026.
Tentang aLPa
Film pendek aLPa, garapan sutradara Dhiwangkara Seta, akan ditampilkan dalam program Wide Angel-Asian Short Film Comeptition. Ceritanya tentang seorang vokalis punk yang dikirim ke pusat rehabilitasi moral, di mana dia bertemu dengan Deri, seorang ulama yang terhubung dengan masa lalunya.
Christine Hakim, sepanjang kariernya, telah memberikan kontribusi besar di industri film Indonesia. Dari debutnya di film Cinta Pertama hingga karya-karya monumental seperti Badai Pasti Berlalu dan Tjoet Nja’ Dhien, ia terus menunjukkan kepiawaiannya dalam berakting. Christina Hakim juga telah membuktikan kemampuannya dalam film-film internasional seperti Eat Pray Love dan The Last of Us.
Dengan prestasi dan dedikasinya, Christine Hakim telah meraih delapan Piala Citra dan berbagai penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri. Keberhasilannya dalam berakting juga terbukti dari kesuksesan film-film yang dibintanginya di box office Indonesia. Dengan demikian, kehadiran Christine Hakim dalam BIFF 2026 menjadi salah satu sorotan yang patut diapresiasi.
