Seniman Berprestasi di Balapulang, Tegal: Menanti Perhatian yang Layak
Kopi hitam di atas meja mulai kehilangan asapnya. Di sampingnya, sebatang rokok kretek mengepulkan asap tipis yang sesekali terurai dibawa angin sore.
Jejak Panjang Seni di Balapulang, Tegal
Di sudut Kantor Kecamatan Balapulang, Imam Joend membuka kembali cerita tentang dunia seni di tanah kelahirannya. Rambut gondrong, tubuh tegap, dan gaya bicara khas membuat seniman senior ini mudah dikenali. Namun, sore itu Imam Joend lebih fokus pada potensi seni luar biasa di Balapulang yang belum mendapat perhatian sepadan.
Menurut Imam, Balapulang pernah menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang kreatif yang hidup dari gagasan, kata-kata, musik, panggung, dan layar. Dari sini tumbuh seniman-seniman berprestasi dengan latar belakang dan pencapaian yang beragam.
Talentanya Dibutuhkan Perhatian dan Investasi
Imam Joend menyoroti perhatian yang masih minim dari pemerintah terhadap dunia seni di Kabupaten Tegal. Bagi Imam, seniman bukan hanya pengisi acara belaka, melainkan bagian penting dari identitas daerah yang perlu dirawat.
“Jangan seniman hanya dicari ketika pemerintah punya acara. Setelah acara selesai, ya selesai juga perhatiannya,” tegas Imam yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tegal.
Seni bukan hanya tentang hiburan atau tepuk tangan penonton, melainkan bagian dari identitas daerah yang dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Oleh karena itu, merawat seniman bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi juga investasi kebudayaan yang berkelanjutan.
Di balik secangkir kopi sore itu, pesan Imam sederhana: berikan ruang, maka para seniman akan berkarya. Berikan kesempatan, maka mereka akan membawa nama Kabupaten Tegal lebih jauh.
Sumber: Tegal – Times Indonesia
