Perjuangan Malahayati bersama pasukan Inong Bale, kelompok perempuan yang bangkit melawan penjajah Portugis, akan diangkat ke layar lebar melalui film sejarah Pasukan 1000 Janda. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 11 November mendatang.
Film tersebut disutradarai Archie Hekagery dan menghadirkan sejumlah aktris Tanah Air, di antaranya Atiqah Hasiholan, Cut Mini, serta Ulli Triani. Para pemain memerankan sosok-sosok perempuan yang terlibat dalam perjuangan bersenjata di Aceh.
Riset sejarah dan dramatisasi cerita
Archie mengatakan film itu berangkat dari sejarah keberanian pasukan Inong Bale yang dipimpin Malahayati. Untuk menyusun cerita, tim produksi melakukan riset mendalam agar kisah yang ditampilkan tetap sesuai dengan catatan sejarah yang menjadi pijakannya.
Meski demikian, sejumlah modifikasi alur tetap dilakukan sebagai bagian dari dramatisasi film. Penyesuaian tersebut diterapkan dalam penyajian cerita, tanpa menghilangkan inti perjuangan Malahayati dan pasukan Inong Bale.
Persiapan para pemeran juga mencakup latihan fisik dan bela diri secara intensif. Atiqah Hasiholan dan aktris lainnya menjalani latihan tersebut untuk mendukung peran mereka sebagai perempuan tangguh yang turun ke medan perang melawan penjajah.
Sosok Malahayati dan pasukan Inong Bale
Malahayati merupakan tokoh dari Kesultanan Aceh pada abad ke-16. Ia lahir pada 1550 dan tumbuh di lingkungan militer angkatan laut Aceh. Malahayati juga menempuh pendidikan di bidang maritim dan strategi perang.
Keterlibatannya di medan perang berawal setelah suaminya, Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief, meninggal syahid saat melawan Portugis. Setelah itu, Malahayati mengumpulkan para janda perang lainnya dan mengajak mereka bangkit untuk menghadapi penjajah.
Pasukan tersebut kemudian dikenal sebagai Inong Bale, yang berarti pasukan janda. Kisah pembentukan dan perjuangan pasukan itu menjadi landasan utama film Pasukan 1000 Janda.
Salah satu pencapaian terbesar Malahayati dalam perjuangan tersebut adalah keberhasilannya mengalahkan Cornelis de Houtman. Keduanya disebut terlibat duel satu lawan satu di atas geladak kapal de Houtman di Aceh.
Dalam duel itu, Malahayati menikam de Houtman menggunakan rencong, senjata khas Aceh. Adegan tersebut menjadi klimaks dalam film yang disutradarai Archie Hekagery itu.
